JANGAN BERSUNGUT-SUNGUT

JANGAN BERSUNGUT-SUNGUT

JANGAN BERSUNGUT-SUNGUT
1 KOR 10:10, FIL 2:14, LUK 9:23
1Korintus_10:10 Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut.
Filipi_2:14 Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan,
Lukas_9:23 Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.
Kunci berikutnya untuk masuk ke dalam tanah perjanjian Tuhan, tempat hidup berkemenangan dalam Kristus adalah “jangan bersungut-sungut”. Mengapa seseorang bersungut-sungut? Karena ketidaknyaman, karena dagingnya merasa tersiksa. Untuk menghentikan sungut-sungut maka kita harus punya alat untuk mematikan daging kita, yaitu salib. Orang Israel melewati padang gurun tanpa memikul salib. Tetapi Yesus memanggil kita untuk mengikut Dia, dan menyuruh kita memikul salib, supaya tidak ada sungut-sungut keluar dari mulut kita. Dengan begitu kita akan mampu mengikut Dia dengan sukacita, meski tantangan orang Israel di padang gurun dan tantangan kita di dalam mengikut Kristus adalah beda-beda tipis, pastinya yang sama adalah ketidaknyamanan. Ketidaknyamanan membuat daging tersiksa dan itu menyebabkan seseorang mulai bersungut-sungut. Ketidaknyamanan bukan hanya berbicara tentang kekekurangan makanan minuman atau kekurangan harta benda. Bukan. Ketidaknyamanan adalah ketika kesenangan kita terganggu. Itulah ketidaknyamanan. Dan itu bisa disebabkan keadaan di sekeliling kita dan juga perlakuan dari orang-orang di sekitar kita, termasuk anggota keluarga kita (suami, isteri atau anak-anak). Disinilah godaan untuk bersungut-sungut muncul. Orang yang menolak salib adalah orang yang suka bersungut-sungut. Orang ini sangat tidak suka kalau kesenangannya terganggu. Orang ini tidak memiliki sukacita Kristus di dalam hidupnya, karena hidupnya penuh sungut-sungut.
Siapapun tidak senang mendengar sungut-sungut dari seseorang. Dan itu bisa memancing pertengkaran. Tuhan pun tidak suka mendengar sungut-sungut dan itu menjengkelkan bagi Tuhan, sehingga bangsa Israel tidak diijinkanNya masuk ke tanah Kanaan karena bersungut-sungut. Berhentilah bersungut-sungut, rasakan dan nikmati tekanan salib itu menekan daging saudara. Nikmati Saudaraku, jangan bereaksi, tenang, diam saja, jangan ada satupun keluar sungut-sungut dari mulut kita, dan mulai katakan: “Terimakasih Tuhan Yesus”. Itulah ucapan syukur yang dahsyat yang melenyapkan sungut-sungut. Segera ambil sikap seorang pelayan, sikap hamba, mulailah melayani orang-orang yang menjengkelkan Saudara. Mulailah berdoa memberkati mereka. Maka sukacita sorga akan memenuhi hatimu.

Apa yang saya sampaikan adalah hal praktis yang saya lakukan. Itu membuat hidup saya selalu bersukacita setiap hari. Bukannya tidak ada masalah atau cobaan. Itu tetap ada. Yang penting adalah kita bisa menghadapinya atau menanganinya dengan kemenangan.
Tuhan Yesus memberkati.

PERCAYALAH, TUHAN ITU SETIA

PERCAYALAH, TUHAN ITU SETIA

PERCAYALAH, TUHAN ITU SETIA
2 TIM 2:13, KOL 10:13, 1 YOH 1:9
2Timotius_2:13 jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.”
Kolose_10:13 Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.
1Yohanes_1:9 Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.
Allah kita adalah Allah yang setia. Kalau kita melayani Dia, Dia pasti memberikan kita upah. Jika Dia berjanji, pasti Dia akan menepati. Jika Dia berjanji menjaga kita, pasti Dia menjaga kita. Jika Dia berjanji memberkati keluarga yang takut akan Tuhan, pasti Dia akan memberkati. Jika Dia berjanji kita tidak akan kekurangan, Dia pasti menepati. Jika kita jatuh ke dalam dosa, Dia pasti mengampuni jika kita mengakuinya. Jika kita tidak setia, bahkan tidak setia bertahun-tahun dan meninggalkan Dia, Dia tetap setia. Betapa baiknya Tuhan itu, dan betapa setiaNya Dia. Untuk merespon kesetiaan Tuhan, maka dari pihak kita dibutuhkan hati yang percaya kepadaNya. Tanpa iman, tidak mungkin kita berkenan kepada Tuhan, dan tanpa iman tidak mungkin kita menerima berkatNya. Karena itu percayalah kepada Tuhan, percayalah bahwa Dia setia. Hitunglah berkat-berkat yang sudah dan sedang diberikanNya. Ucapkanlah syukur untuk itu semua, sekecil apapun menurut perkiraan kita, tetaplah mengucap syukur. Kalau kita jatuh, percayalah bahwa Tuhan itu setia, Dia memegang tangan kita supaya kita tidak jatuh tergeletak, dan Dia mengangkat dan membersihkan kita. Bangkitlah kembali, datanglah kepada Tuhan Yesus, ikutlah Dia kembali. Dia menerima Saudara apapun keadaanmu. Percayalah. Fajar menyingsing bagi orang-orang yang berani percaya bahwa Tuhan itu setia.

MENYATAKAN KEBENARAN DAN MENYATAKAN KESALAHAN

MENYATAKAN KEBENARAN DAN MENYATAKAN KESALAHAN

MENYATAKAN KEBENARAN DAN MENYATAKAN KESALAHAN
2 TIM 2:15, 3:16, 4:2
2Timotius_3:16 Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.
2Timotius_4:2 Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.
2Timotius_2:15 Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.
Tuhan Yesus mencari mempelaiNya yang tidak bercacat cela, yang kudus, yang mencintai Dia. Tidak mungkin Gereja yang adalah calon mempelai Kristus akan seperti yang diharapkan Kristus kalau Gereja tidak dimandikan dengan Firman Tuhan, tidak dibersihkan dari segala kekotoran dan kenajisan. Banyak ajaran-ajaran sekarang yang anti terhadap disabun, digosok dan dibersihkan dari segala kekotoran dan kenajisan. Ajaran-ajaran itu menentang segala usaha mempersiapkan Gereja sebagai mempelai Kristus. Hasilnya dosa dibiarkan di dalam gereja dan merajalela, dan kalangan yang membela ajaran ini akan bangkit dan menentang hamba Allah yang menyingkapkan dosa dengan mengatakan hal yang sama: JANGAN MENGHAKIMI!. Bahaya yang mengancam gereja adalah gereja akan semakin mirip dengan dunia. Dan dunia semakin tidak tertarik dengan gereja, karena gereja tidak lagi berbeda dengan dunia, gereja tidak lagi unik, tapi sudah sama saja dengan dunia. Hilanglah rasa asin dari garam gereja, dan padamlah terangnya gereja. Gereja menjadi suam-suam kuku dan meninggalkan kasih yang mula-mula. Memang terlihat aktif dari luar, tetapi di dalamnya sama sekali tidak ada kuasa dan kehilangan kasih mula-mula kepada Kristus.
Karena itu, kalau hidup kita dikuasai Firman Tuhan, maka perkataan kitapun akan dikuasai Firman Tuhan. Bukan hanya ayat-ayat favorit yang kita ingat, tetapi juga ayat-ayat kebenaran yang menyatakan apa yang benar dan apa yang salah. Firman Tuhan berfungsi untuk menyatakan kebenaran dan kesalahan, kedua-duanya sekaligus. Kalau kebenaran dinyatakan, maka kesalahan akan ketahuan. Kalau kesalahan dinyatakan, maka kebenaran akan muncul. Dengan demikian kita semua akan dididik dalam kebenaran semakin serupa dengan Kristus. Kunci dari menyatakan kebenaran dan kesalahan adalah KASIH. Apapun yang kita lakukan kalau tidak ada kasih sama dengan tong kosong nyaring bunyinya, seperti gong berkumandang, seperti canang yang gemerincing, hanya bunyinya saja. Menyatakan kebenaran dan kesalahan haruslah dengan hati yang hancur dan menangis dan berbelas kasihan. Tanpa itu, maka menyatakan kebenaran dan kesalahan akan melukai saudara-saudara kita yang lemah imannya.

HAKIMILAH DENGAN ADIL

HAKIMILAH DENGAN ADIL

HAKIMILAH DENGAN ADIL
YOHANES 7:24, YESAYA 11:3
Yohanes_7:24 Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil.”
Yesaya_11:3 ya, kesenangannya ialah takut akan TUHAN. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang.
Setelah kita berhenti menghakimi orang lain dan mulai belajar menghakimi diri kita sendiri, setelah Tuhan memperjelas mata rohani kita dan Tuhan menguasai hati kita dengan hati berbelas kasihan, barulah kita bisa menghakimi dengan adil. Tapi bukannya Tuhan melarang kita menghakimi? Betul. Itu karena kita belum menghakimi diri kita sendiri. Selama kita belum menghakimi diri kita sendiri, Tuhan melarang kita dengan keras menghakimi orang lain.
Kalau begitu, apa pentingnya menghakimi orang lain? Penting karena tanggung jawab kita dalam pelayanan dan menjaga kawanan domba Allah. Apa bedanya kalau begitu dengan sebelumnya? Perbedaannya karena kita akan menghakimi dengan adil, dengan kebenaran, dengan mata rohani yang tidak rabun dan dengan belas kasihan bagi yang terhilang. Karena tugas kita menggembalakan domba-domba Tuhan, maka kitapun akan menilai mereka sampai dimana pertumbuhan rohani mereka, mengapa mereka begitu lamban, kita akan mudah melihat dosa-dosa yang terjadi di tengah jemaat yang dulu tidak kita lihat, tetapi kemudian Tuhan membukakan dengan jelas dan kita hancur hati melihatnya. Kitapun akan cepat menangkap serangan Iblis melalui penyesatan yang masuk ke tengah-tengah gereja. Cara kita menghakimi akan berbeda, yaitu dengan cucuran air mata, dengan hati menangis, dengan belas kasihan, dan dengan kasih. Kitapun akan siap menyerahkan nyawa kita dengan menyelamatkan saudara kita dari penyesatan dan kemurtadan. Kalau kita belum mulai menghakimi diri kita sendiri, hati-hatilah, jangan pernah menghakimi orang lain dengan alasan apapun.

BELAS KASIHAN

BELAS KASIHAN

BELAS KASIHAN
YAKOBUS 2:13, 3:17
Yakobus_2:13 Sebab penghakiman yang tak berbelas kasihan akan berlaku atas orang yang tidak berbelas kasihan. Tetapi belas kasihan akan menang atas penghakiman.
Yakobus_3:17 Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.
Orang yang sudah berhenti menghakimi orang lain akan masuk ke fase belas kasihan. Yesus adalah Raja yang penuh belas kasihan. Dulu saya bingung darimana belas kasihan itu bisa datang ke dalam hati saya. Saya menyangka kalau saya menangis-nangis dalam doa maka belas kasihan itu datang. Atau jika saya hancur hati maka belas kasihan itu datang dan menguasai saya. Saya bingung cara mendapatkannya. Ternyata belas kasihan itu datang kalau saya sudah berhenti menghakimi orang lain. Sejak saya berhenti untuk menghakimi orang lain maka belas kasihan Allah menguasai hati saya. Saya menjadi sangat terbeban akan keselamatan banyak orang. Saya berdoa kepada Tuhan untuk memakai saya menggunakan berbagai kesempatan untuk memberitakan Injil. Saya tahu setiap waktu Tuhan bisa saja mengambil anggota keluarga besar saya dimana mereka akan meninggal dunia lebih dahulu. Juga teman-teman saya di kantor. Juga tetangga saya.Saya mulai ambil kesempatan, jika ada kesempatan berkotbah di penghiburan kematian, saya ambil kesempatan itu memberitakan Injil. Jika ada kesempatan mandok hata (memberi kata sambutan) di acara adat Batak, saya gunakan itu untuk memberitakan Injil. Jika saya kumpul dengan Bapaktua, Uda, Amangboru, Tante, sepupu dari keluarga besar, saya akan layani mereka, kasihi mereka dan kasih yang meluap dari Kristus supaya saya beroleh kesempatan memberitakan Injil. Sejak itulah saya persembahkan akun Facebook saya kepada Tuhan Yesus di mana saya berhenti menghakimi gubernur dan wakil gubernur kota saya, dan saya mulai menggunakan Facebook hanya untuk memberitakan Injil. Bukan saya ingin kelihatan rohani atau sok suci, bukan. Tapi waktu-waktu yang sempit ini saya harus beritakan Firman, beritakan Injil, karena ada anggota-anggota keluarga besar saya sebagai friends di Facebook, mereka harus saya kuatkan imannya, mereka harus saya menangkan bagi Kristus. Belas kasihan Allah menguasai hati saya.

HAKIMI DIRIMU SENDIRI

HAKIMI DIRIMU SENDIRI

HAKIMI DIRIMU SENDIRI
MATIUS 7 : 5, 9
Matius 7:5 Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”
Mazmur_7:9 TUHAN mengadili bangsa-bangsa. Hakimilah aku, TUHAN, apakah aku benar, dan apakah aku tulus ikhlas.
Saya tidak bermaksud kita menghukum diri kita sendiri, atau mencari-cari dosa kita sendiri, atau mengingat-ingat dosa masa lalu kita. Oh, itu berbahaya, jangan lakukan itu. Menghakimi diri sendiri yang saya maksud adalah introspeksi diri, memeriksa diri sendiri atau menilai diri sendiri (Self Assessment). Standar penilaian kita bagi diri kita sendiri adalah Keserupaan dengan Kristus (The Likeness of Christ). Kita harus selalu membandingkan diri kita dengan Kristus Tuhan kita, karena Dia adalah teladan kita, Kapten Keselamatan kita, yang memimpin kita di depan, yang sudah mencapai garis finish terlebih dahulu. Yesuslah standard kita. Dengan membandingkan diri kita dengan Yesus, maka kita akan menemukan di titik-titik mana kita tidak serupa dengan Kristus. Kristus yang tidak bercacat dan tidak bercela, dan kita yang penuh cacat dan cela, akan terlihat kontras sekali perbedaannya. Dengan begitu mudah sekali kita menemukan cacat dan cela kita, dan kita segera bertobat dan minta tolong Tuhan untuk melepaskan kita dari cacat dan cela kita itu. Orang yang bertumbuh ke arah Kristus adalah orang yang selalu menghakimi (menilai) dirinya sendiri. Kalau kita sudah mulai menghakimi diri kita sendiri, kita pun akan mudah berhenti menghakimi orang lain. Bukan hanya itu, mata rohani kita pun tidak rabun lagi tetapi kita bisa melihat dengan jelas hal-hal rohani, kita bisa melihat dengan jelas apakah kebenaran itu, kita bisa mendeteksi ajaran-ajaran sesat yang masuk ke dalam gereja-gereja, Tuhan mengangkat kita ke tempat tinggi bersama Dia untuk melihat hal-hal yang terjadi di dunia ini atau dari sekitar kita secara roh.
Mulailah bandingkan diri Saudara dengan Kristus. Jangan dengan orang lain, karena membandingkan diri dengan orang lain akan menjebak Saudara dalam keputusasaan. Membandingkan diri dengan Kristus justru melepaskan diri kita dari keputusasaan dan memberikan kita sukacita pengharapan.

JANGAN KAMU MENGHAKIMI!

JANGAN KAMU MENGHAKIMI!

JANGAN KAMU MENGHAKIMI!
MATIUS 7 : 1
Matius 7:1 “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.
Kotbah di bukit yang tercantum di Matius pasal 5 sampai pasal 7 adalah pelajaran dasar bagi seorang murid Kristus. Jika kita ingin mengasihi Tuhan Yesus tentu kita akan menuruti perintahNya. Tapi perintah yang mana? Banyak orang menafsirkan perintah Yesus itu hanyalah memberitakan Injil, padahal itu keliru sekali. Ada banyak perintah Tuhan Yesus dalam 4 Injil, yaitu Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Jadi bukan hanya pemberitaan Injil atau Amanat Agung Pemuridan, tapi ada banyak perintah Yesus. Salah satu perintah Yesus yang sangat penting sekali yang merupakan salah satu kunci Kerajaan Sorga adalah: Jangan kamu menghakimi!
Dulu sering saya melewati ayat ini. Tetapi setelah saya mulai betul-betul mempraktekkannya dengan mulai bertobat dari semua sifat suka menghakimi orang, Tuhan mulai merombak kehidupan saya. Mudah sekali saya menghakimi orang. Salah satunya adalah berbicara menyindir para pejabat dan politisi yang saya tidak suka, entah itu gubernur dan wakil gubernur, atau pejabat dari partai oposisi. Menghakimi hamba-hamba Tuhan yang jatuh. Menghakimi orang-orang Batak yang satu suku dengan saya bahkan keluarga besar saya sendiri. Menghakimi kalangan orang berdosa seperti LGBT, orang berpoligami, dsb. Menghakimi saudara-saudara saya seiman. Menghakimi orang-orang yang bukan beragama Kristen, dan sebagainya. Dan saya temukan ini sangat berbahaya bagi jiwa saya. Saya bertobat dari itu semua dengan hancur hati. Disitulah kasih Kristus mulai melanda saya, dan saya bertekad ingin memenangkan mereka bagi Kristus. Tidak mungkin kita bisa memenangkan jiwa kalau kita masih menghakimi orang-orang luar yang belum mengenal Tuhan. Kalau kita berhenti menghakimi maka Tuhan akan mulai bekerja dalam hidup kita, mengubah kita menjadi orang-orang yang penuh belas kasihan.

TELAH SELESAI DI KAYU SALIB

TELAH SELESAI DI KAYU SALIB

TELAH SELESAI DI KAYU SALIB
YOHANES 19 : 28
Yoh 19:28 Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia–supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci–:”Aku haus!” 19:29 Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam . Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus. 19:30 Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai . ” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.
Pdt. OTTO PANGGABEAN, S.Th

Kematian dan kebangkitan KRISTUS di kayu salib adalah dua hal yang paling penting didalam kekristenan. Karena untuk kedua hal inilah YESUS turun dan mengambil rupa menjadi manusia, yaitu untuk mati sebagai korban pendamaian, lalu bangkit kembali setelah mengalahkan maut.
Kematian KRISTUS adalah lambang dari korban pendamaian yang dibawa oleh bangsa Israel satu tahun sekali di acara Hari Raya Pendamaian atau biasa disebut Yom Kippur. Hari Raya Pendamaian adalah hari raya paling suci bagi bangsa Israel, dimana hal ini diceritakan dalam kitab Imamat 16. Hari Raya Pendamaian ini menyinggung tentang 2 ekor kambing sebagai korban penghapus dosa. Pada pagi hari perayaan pendamaian ini, diadakan pembacaan kitab Taurat. Dan yang paling penting dari perayaan ini adalah pengorbanan seekor kambing sebagai korban penghapus dosa, diiringi dengan doa pengakuan dosa, kemudian Imam Besar masuk ke Ruang Maha Kudus dan melakukan pelepasan kambing Azazel yang akan membawa semua dosa bangsa Israel. Imamat 16:21 “dan Harun harus meletakkan kedua tangannya ke atas kepala kambing jantan yang hidup itu dan mengakui di atas kepala kambing itu segala kesalahan orang Israel dan segala pelanggaran mereka, apapun juga dosa mereka; ia harus menanggungkan semuanya itu ke atas kepala kambing jantan itu dan kemudian melepaskannya ke padang gurun dengan perantaraan seseorang yang sudah siap sedia untuk itu. 16:22 Demikianlah kambing jantan itu harus mengangkut segala kesalahan Israel ke tanah yang tandus, dan kambing itu harus dilepaskan di padang gurun.”
Kambing yang dipersembahkan haruslah kambing yang tidak bercacat cela. Ketika Imam Besar menaruh tangannya ke atas kepala kambing, maka semua dosa dan kesalahan bangsa Israel ditimpakan kepada kambing dan semua kesempurnaan kambing berpindah kepada bangsa Israel. Lalu kambing akan dipersembahkan sebagai korban bakaran, sedangkan bagi kambing yang lain, Azazel maka kambing ini akan dilepaskan dengan membawa semua dosa dan kutuk bangsa Israel ke padang gurun. Tujuan kambing ini dilepaskan adalah agar dimangsa oleh serigala atau binatang buas lainnya. Setelah itu Imam besar akan menaikkan doa dari Bilangan 6:24” TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; 6:25 TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; 6:26 TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera. 6:27 Demikianlah harus mereka meletakkan nama-Ku atas orang Israel, maka Aku akan memberkati mereka.”.
Saudaraku, Hari Raya Pendamaian ini adalah gambaran tentang bagaimana YESUS sebagai Korban Pendamaian, mendamaikan kita dengan Bapa di sorga. Pertanyaannya kenapa kita harus diperdamaikan? Karena dosa kita membuat kita menjadi berseteru dengan Bapa di sorga. Karena dosa, kita tidak layak untuk bertemu dengan Allah Bapa. Tetapi YESUS datang ke dunia menanggung semua dosa dan kutuk kita di kayu salib. Bahkan Dia menanggung dosa masa lalu, masa sekarang dan dosa yang akan datang, sehingga kita layak untuk menerima kasih karunia yang TUHAN berikan melalui kematian KRISTUS di kayu salib. Oleh sebab itu, mari kita naikkan doa dari Bilangan 6:24-27 dengan mengganti kata engkau dengan nama Saudara dan Saudari sendiri. Karena penebusan KRISTUS di kayu salib, Saudara dan saya selalu layak untuk menerima kemurahan TUHAN. Tuhan YESUS memberkati.

ADA WAKTU UNTUK TEROBOSAN

ADA WAKTU UNTUK TEROBOSAN

ADA WAKTU UNTUK TEROBOSAN
PENGKHOTBAH 3 : 1 – 2
Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;
Ingatlah selalu ada waktu untuk segala sesuatu. Demikian juga untuk terobosan, waktunya sudah Tuhan sediakan bagi setiap kita di masa-masa yang berbeda. Penatua sudah menyatakan bahwa tahun ini adalah tahun terobosan melalui tangan kita. Mari kita terima itu dengan iman, tahun ini pasti terjadi terobosan dalam hidup kita melalui tangan kita.
Bila kita masih belum mendapat, nantikanlah itu dengan penuh harap, karena itu pasti terjadi. Habakuk 2:3 katakan, “Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh.” Terjemahan lain katakan, bila hal itu sepertinya tertunda, nantikanlah dengan sungguh-sungguh, karena masanya akan datang, dan tidak akan mundur dari waktu yang sudah ditentukan. Bila sepertinya malah makin menjauh, mungkin kita tidak melihat keberhasilan dalam apa yang kita lakukan, jangan menyerah, tetap nantikan dan tetap percaya TUHAN punya terobosan yang besar dalam hidup kita. Bila semua pintu sepertinya tertutup untuk apa yang sedang kita kerjakan, jangan menyerah, pasti ada satu pintu yang akan TUHAN bukakan buat kita, dan di balik pintu itu pasti ada terobosan yang luar biasa yang sedang kita tunggu-tunggu. Selamat menantikan.

TUHAN BESERTA KITA

TUHAN BESERTA KITA

TUHAN BESERTA KITA
BACA: KEJADIAN 39 : 1 – 2
Adapun Yusuf telah dibawa ke Mesir; dan Potifar, seorang Mesir, pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja, membeli dia dari tangan orang Ismael yang telah membawa dia ke situ. Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu.
Keberhasilan kita semata-mata karena TUHAN beserta kita. Bukan karena kekayaan kita, bukan karena latar belakang pendidikan yang kita tempuh, bukan karena adanya “backing” yang melindungi kita dan memberikan referensi. Bukan juga karena pekerjaan kita, bukan karena bisnis kita, bukan karena latar belakang keluarga kita. Kita bisa berhasil karena TUHAN beserta kita.
Yusuf mengalaminya. Dia dijual sebagai budak, tidak ada uang yang dia miliki, dia telanjang ketika dijual sebagai budak, jubah maha indah yang pernah dia miliki sudah diambil daripadanya, dia tidak memiliki saudara yang dapat dia andalkan, dia tidak memiliki sumber daya apapun yang bisa memuluskan jalannya untuk berhasil. Tapi ayat ini mengatakan, TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia selalu, — selalu, bukan kadang-kadang — berhasil dalam pekerjaannya (penekanan dari saya).
Di masa ini, TUHAN memastikan penyertaan-NYA dengan menghadirkan YESUS ke dalam dunia. Matius 1:23 katakan “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” — yang berarti: Allah menyertai kita. YESUS adalah manifestasi dari penyertaan Allah dalam hidup kita. Ketika kita menerima YESUS sebagai Tuhan dan Juruselamat, saat itu TUHAN sudah beserta dengan kita. Dan saat TUHAN beserta kita, kita pasti akan mengalami keberhasilan seperti Yusuf. Penyertaan TUHAN lah yang membuat kita berhasil, tidak ada yang lain.
Saat Allah beserta kita, tidak ada hal lain yang kita butuhkan untuk berhasil, tetapi tanpa Allah, seluruh hal yang kita miliki tidak akan membuat kita berhasil. Amin.